Tulisan ini juga terbit di Buletin Forum Aliansi Mahasiswa Banyumas (FAM-B)
Oleh; Bagus Irmawansyah
Wacana
‘kepemudaan’ bukan hal baru di Indonesia. Dalam sejarah perkembangannya, pemuda
dikenal sebagai tokoh pembaharu yang senantiasa berada dalam garda depan
perubahan. Artinya, gerakan sosial yang diusung oleh pemuda diyakini mampu
menghasilkan buah manis dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tengok saja
ketika tahun 1908, gerakan pemuda yang dikenal dengan angkatan ’08 mampu
menghasilkan sejarah besar, yang kini kita kenal dengan Kebangkitan Nasional
dan Boedi Oetomo. Kemudian, pada tanggal 28 Oktober 1928, gerakan pemuda yang
kita kenal dengan Angkatan ’28 mampu mencetuskan semangat juang pemuda, yang
kini tercatat dalam ikrar Sumpah Pemuda. Beranjak ke era pasca kemerdekaan, pemuda
angkatan ’66 memunculkan gerakan yang dikenal dengan penumbangan PKI. Hingga
yang sangat fenomenal adalah, gerakan pamuda dan mahasiswa tahun 1998, yang
mampu melengserkan kursi kekuasaan mantan presiden Soeharto. Dari sederetan
fenomena gerakan tersebut, dapat diartikan bahwa semangat juang pemuda bukanlah
wacana kamrin sore. Labih dari itu, konsepsi gerakan yang digaungkan oleh
pemuda patut diyakini sebagai gerakan perubahan dari kondisi ketidakadilan.
Amat sangat disayangkan, jika hasil apik yang ditorehkan oleh pemuda tidak
memiliki blueprint jangka panjang demi
menjunjung harga diri dan martabat bangsa. Mirisnya, hal demikianlah yang
terjadi saat ini.
Banyak
pihak sepakat, bahwa perjuangan pemuda pra/pasca reformasi harus dilanjutkan
dengan semangat juang yang tinggi. Opini demikian memang patut dilontarkan kepada
pegiat gerakan perubahan, terkhusus pemuda. Pasalnya, tidak jarang orang yang
melihat bahwa gerakan pemuda masih terseok-seok di tengah gejolak sosial
politik dalam negeri. Missal, gerakan
reformasi Mei 1998, hanya berhenti pada pembubaran rezim korup Orde Baru. Sama
halnya dengan mandulnya gerakan reformasi Mei 1998, semangat ‘Sumpah Pemuda’
pun, dirasa belum mampu mendobrak nalar kritis pemuda – terkhusus mahasiswa – untuk
lebih sensitive terhadap persoalan bangsa saat ini.
Menjadi
kritik tajam untuk pemuda-mahasiswa, yang sampai saat ini belum mampu mengayuh
tongkat estafet perubahan bangsa. Lantas, kemanakah sosok pemuda yang penuh semangat
dan idealis itu? Serta, faktor apa yang menghinggapi pemuda-mahasiswa saat ini,
hingga mampu menumpulkan gerakan dan semangat juang mereka? Atas dasar
kegelisahan tersebut, tulisan ini akan menggambarkan adanya pergeseran semangat
juang pemuda tempo dulu dengan pemuda di era pasca reformasi. Telaah lebih
dalam pada gerakan pemuda-mahasiswa menjadi fokus dalam tulisan ini.