Selasa, 07 Januari 2014

Terkikisnya Idealisme Gerakan Pemuda (Mahasiswa)


Tulisan ini juga terbit di Buletin Forum Aliansi Mahasiswa Banyumas (FAM-B)


Oleh; Bagus Irmawansyah

Wacana ‘kepemudaan’ bukan hal baru di Indonesia. Dalam sejarah perkembangannya, pemuda dikenal sebagai tokoh pembaharu yang senantiasa berada dalam garda depan perubahan. Artinya, gerakan sosial yang diusung oleh pemuda diyakini mampu menghasilkan buah manis dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tengok saja ketika tahun 1908, gerakan pemuda yang dikenal dengan angkatan ’08 mampu menghasilkan sejarah besar, yang kini kita kenal dengan Kebangkitan Nasional dan Boedi Oetomo. Kemudian, pada tanggal 28 Oktober 1928, gerakan pemuda yang kita kenal dengan Angkatan ’28 mampu mencetuskan semangat juang pemuda, yang kini tercatat dalam ikrar Sumpah Pemuda. Beranjak ke era pasca kemerdekaan, pemuda angkatan ’66 memunculkan gerakan yang dikenal dengan penumbangan PKI. Hingga yang sangat fenomenal adalah, gerakan pamuda dan mahasiswa tahun 1998, yang mampu melengserkan kursi kekuasaan mantan presiden Soeharto. Dari sederetan fenomena gerakan tersebut, dapat diartikan bahwa semangat juang pemuda bukanlah wacana kamrin sore. Labih dari itu, konsepsi gerakan yang digaungkan oleh pemuda patut diyakini sebagai gerakan perubahan dari kondisi ketidakadilan. Amat sangat disayangkan, jika hasil apik yang ditorehkan oleh pemuda tidak memiliki blueprint jangka panjang demi menjunjung harga diri dan martabat bangsa. Mirisnya, hal demikianlah yang terjadi saat ini.
Banyak pihak sepakat, bahwa perjuangan pemuda pra/pasca reformasi harus dilanjutkan dengan semangat juang yang tinggi. Opini demikian memang patut dilontarkan kepada pegiat gerakan perubahan, terkhusus pemuda. Pasalnya, tidak jarang orang yang melihat bahwa gerakan pemuda masih terseok-seok di tengah gejolak sosial politik  dalam negeri. Missal, gerakan reformasi Mei 1998, hanya berhenti pada pembubaran rezim korup Orde Baru. Sama halnya dengan mandulnya gerakan reformasi Mei 1998, semangat ‘Sumpah Pemuda’ pun, dirasa belum mampu mendobrak nalar kritis pemuda – terkhusus mahasiswa – untuk lebih sensitive terhadap persoalan bangsa saat ini.
Menjadi kritik tajam untuk pemuda-mahasiswa, yang sampai saat ini belum mampu mengayuh tongkat estafet perubahan bangsa. Lantas, kemanakah sosok pemuda yang penuh semangat dan idealis itu? Serta, faktor apa yang menghinggapi pemuda-mahasiswa saat ini, hingga mampu menumpulkan gerakan dan semangat juang mereka? Atas dasar kegelisahan tersebut, tulisan ini akan menggambarkan adanya pergeseran semangat juang pemuda tempo dulu dengan pemuda di era pasca reformasi. Telaah lebih dalam pada gerakan pemuda-mahasiswa menjadi fokus dalam tulisan ini.

Konflik Timur Tengah dan Ketergantungan Minyak Indonesia




Oleh; Bagus Irmawansyah

Timur tengah semakin memanas. Disana, gejolak politik dan perang saudara seakan selalu menghantui kehidupan masyarakatanya. Sejak Revolusi Kuba, perseteruan Iraq dan Amerika Serikat, konflik Jalur Gazza di Pelestina, aksi massa Ikhwanul Muslimin Mesir hingga tuduhan penyalahgunaan senjata kimia oleh pemerintahan Suriah bukanlah kabar baru bagi Indonesia. Bahkan, tidak hanya di Indonesia, kabar berita di timur tengahpun menyeret perhatian dunia internasional.
Masih terkait dengan timur tengah, baru-baru ini Amerika Serikat dikabarkan akan segera meluncurkan serangan terhadap Negara Suriah. Suriah dikabarkan melakukan penyerangan terhadap warga negaranya dengan mengguakan senjata kimia. Sesuai dengan kesepakatan dunia, senjata kimia hanya boleh digunakan untuk melakukan penyerangan atas adanya ancaman dari negara luar. Namun, presiden Amerika Serikat, Barack Obama memberikan tuduhan bahwa pemerinatah Suriah dibawah kepeminpinan Bashar Al-Assad telah melakukan penyerangan terhadap warga negaranya dengan menggunaakan senjata kimia. Akan tetapi, sejauh ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) belum menerima bukti-bukti atas tuduhan Amerika Serikat terhadap pemerintahan Suriah.
Terlepas dari apapun, konflik yang tengah terjadi di timur tengah jelas sangat berdampak besar bagi kelangsungan hidup warga dunia, tidak terkecuali Indonesia. Disamping dampak moral, yakni pelanggaran hak kemanusiaan, juga harga minyak dan besaran kuota impor minyak dari timur tengah menjadi salah satu dampak negative yang patut diperhatikan, dan dampak tersbut merupakan sebuah keniscayaan.
Dunia internasional paham betul keistimewaan yang dimiliki oleh hampir seluruh Negara-negara timur tegah. Mengetahui hal tersebut, tidak heran jika banyak negara-negara ‘barat’ (Eropa, Amerika Serikat) kerap kali mempertaruhkan segalanya di Timur Tengah. Sebab, 66,5 persen cadangan minyak mentahnya memang berada di kawasan tersebut. Sementara di Arab Saudi sendiri, terdapat 60 ladang minyak dan gas bumi yang menghasilkan 10 juta barel per hari[1]. Timur tengah merupakan wilayah dengan penguasaan minyak terbesar di dunia. Menjadi  pengekspor minyak terbesar, timur tengah seakan menyimpan magnet yang mampu menarik negara lain untuk menjadikan negara-negara Liga Arab sebagai mitra. Tentunya, dengan adanya hubungan baik dengan negara-negara timur tengah, akan mempermudah bagi negara non-Arab untuk mengakses sumber daya minyak dari timur tengah. Banyak sekali negara di belahan dunia yang menggantungkan kebutuhan minyaknya pada negara arab, termasuk Indonesia.
Lantas, apa yang menjadi dampak khusus bagi Indonesia sebagai Negara ‘dunia ketiga’ yang masih sangat bertekergantungan dengan sumber daya minyak? Tuliasan ini akan menggambarkan betapa lemahnya Indonesia dalam mengolah sumber daya alamnya. Ketergantungan minyak impor yang dialami oleh Indonesia kian diperparah dengan adanya gejolak timur tengah. Pasalnya, selama ini timur tengah dipercayai mampu menyelamatkan krisis minyak di Indonesia. Tulisan ini juga akan menggabarkan tentang pentingnya peran pemerintah dan lembaga Negara untuk mengolah cadangan sumber daya alam Indonesia ditengah krisis yang melanda timur tengah.