Semakin
dalam kita memperlajari masalah-malasah utama zaman, makin disadari bahwa ia
tidak dapat dimengerti secara terpisah. Masalah-masalah itu merupakan masalah
sistematik. Artinya bahwa semuanya saling terkait dan tergantung satu sama lain.
Sebagai contoh, menstabilkan populasi dunia hanya mungkin bila kemiskinan
dikurangi di seluruh belahan dunia. Kepunahan binatang juga jenis tumbuhan
dalam skala besar-besaran akan berlanjut selama Belahan Dunia Selatan tetap
terjerat hutang yang bertumpuk-tumpuk. Kelangkaan sumberdaya dan degradasi
lingkungan di tambah pertumbuhan pesat populasi menimbulkan kerusakan
komunitas-komunitas lokal, kekerasan etnis dan suku, yang sudah menjadi ciri
utama paska Perang Dingin.
Akhirnya, masalah-masalah ini harus di lihat sebagai aspek-aspek yang berbeda dari sebuah krisis tunggal, yakni ‘Krisis Persepsi’. Krisis itu berasal dari fakta bahwa sebagian besar kita, dan khususnya lembaga-lembaga sosial kita yang besar, mendukung konsep-konsep yang berasal dari pandangan dunia yang sudah kadaluarsa, sebuah persepsi realitas yang tidak memadai dalam menangani dunia yang berpenduduk terlalu padat dan saling terkait secara global.
Ada beberapa solusi utama untuk berbagai permasalahan-permasalahan permanen zaman; bahkan beberapa diantaranya cukup sederhana. Namun, solusi itu menghendaki suatu perubahan radikal dalam persepsi, pemikiran dan nilai-nilai kita. Senyatanya, sekarag ini kita berada pada permulaan sebuah perubahan fundamental pandangan dunia dalam ilmu dan masyarakat, sebuah perubahan paradigma yang sama radikalnya dengan Revolusi Kopernikan. Namun keinsyafan ini belum berkembang pada sebagian besar para pemimin negara republik (ini). Kesadaran akan perlunya perubahan mendasar dalam persepsi dan pemikiran jika kita ingin bertahan hidup belum menjangkau sebagian besar pemilik korporasi maupun administrator dan para professor.
Bukan hanya gagalnya para pemimpin republik melihat bagaimana persoalan-persoalan yang berbeda saling berhubungan satu sama lain, namun mereka juga menolak memperhatikan generasi-generasi masa depan. Dari sudut pandang sistematik, satu-satunya solusi yang patut dilaksanakan ialah solusi yang berkelanjutan. Sebuah masyarakat yang mampu mencukupi kebutuhan-kebutuhannya tanpa mengurangi prospek lingkungan sosial dan generasi-generasi masa depan.
Akhirnya, masalah-masalah ini harus di lihat sebagai aspek-aspek yang berbeda dari sebuah krisis tunggal, yakni ‘Krisis Persepsi’. Krisis itu berasal dari fakta bahwa sebagian besar kita, dan khususnya lembaga-lembaga sosial kita yang besar, mendukung konsep-konsep yang berasal dari pandangan dunia yang sudah kadaluarsa, sebuah persepsi realitas yang tidak memadai dalam menangani dunia yang berpenduduk terlalu padat dan saling terkait secara global.
Ada beberapa solusi utama untuk berbagai permasalahan-permasalahan permanen zaman; bahkan beberapa diantaranya cukup sederhana. Namun, solusi itu menghendaki suatu perubahan radikal dalam persepsi, pemikiran dan nilai-nilai kita. Senyatanya, sekarag ini kita berada pada permulaan sebuah perubahan fundamental pandangan dunia dalam ilmu dan masyarakat, sebuah perubahan paradigma yang sama radikalnya dengan Revolusi Kopernikan. Namun keinsyafan ini belum berkembang pada sebagian besar para pemimin negara republik (ini). Kesadaran akan perlunya perubahan mendasar dalam persepsi dan pemikiran jika kita ingin bertahan hidup belum menjangkau sebagian besar pemilik korporasi maupun administrator dan para professor.
Bukan hanya gagalnya para pemimpin republik melihat bagaimana persoalan-persoalan yang berbeda saling berhubungan satu sama lain, namun mereka juga menolak memperhatikan generasi-generasi masa depan. Dari sudut pandang sistematik, satu-satunya solusi yang patut dilaksanakan ialah solusi yang berkelanjutan. Sebuah masyarakat yang mampu mencukupi kebutuhan-kebutuhannya tanpa mengurangi prospek lingkungan sosial dan generasi-generasi masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar